Gadis Ditepi Jalan
semua orang menghinanya... mencibir dan menatapnya sebelah mata... bahkan tidaklah penting dengan kabar dirinya.
disaat cahaya terang telah tenggelam dan digantikan dengan gelapnya malam. ketika orang lain tidur terlelap di atas kasur yang lembut. namun dimalam yang dingin dia mulai mencari beberapa lembar rupiah. dia langkahkan kakinya menelusuri tepi jalan, tersenyum pada semua yang lewat berharap ada pria hidung belang yang menginginkannya.
dengan baju yang tipis dan dingin membuat tubuhnya kedinginan, wajah yang pucat ia tutupi dengan make-up yang tebal, ditambah dengan high hills yang membuat kakinya kram dan sakit. sungguh kasihan gadis ini... terpaksa tersenyum walaupun dalam kesedihan.
menjual cinta dan harga diri kepada orang yang tidak bertanggung jawab. menganggap cinta hanyalah sebuah bualan, tak ada uang maka tak ada cinta. realita hidup yang pahit menuntut dirinya hanya menjadi pecundang. menuruti omongan gila dari lelaki yang membayarnya, menghirup asap rokok dan meminum alkohol sudah biasa dalam hari harinya walaupun sebenarnya ia merasa sesak dengan semua itu. harga diri sekeras batu sekarang hanya bagaikan robekan sebuah kertas, mungkin tak ada harganya lagi.
apakah dia mengeluh? TIDAK. tak pernah terdengar ucapan keluhan dari dirinya. tak ada yang peduli dengannya... tak butuh penghargaan apalagi pujian. yang ia butuhkan hanya uang untuk bisa bertahan hidup dan membayar sewa rumah. jika ada uang lebih dia akan memberikannya kepada orang lain yang membutuhkannya. sungguh mulia gadis ini...
ketika pagi mulai menjelang, dia kembali ke istana-nya. istana yang jauh dari kata layak. tembok yang retak, atap yang bolong, baju yang kotor berserakan dimana-mana, tak ada makanan, tak ada kendaraan apalagi handphone. pulang dengan membawa beberapa lembar rupiah, mungkin cukup untuk memenuhi hidupnya beberapa hari kedepan.
baju yang lusuh, make-up yang luntur ditambah kaki kram akibat high hills yang digunakannya. namun ketika betemu dengan tetangga yang mengoloknya "wanita muruhan" bahkan ada yang tega melemparnya dengan batu. itu sangat terasa sakit tapi dia tak pernah marah, gadis ini hanya membalasnya dengan senyuman.
ketika uang bisa membeli segalanya termasuk harga dirinya tapi tidak untuk perasaannya. dia percaya dengan tuhan, dan yakinlah tuhan akan selalu menjaga "gadis ditepi jalan" ini. tak sadarkah mereka yang menghinanya bahwa gadis ini sama seperti mereka, punya perasaan seperti manusia lainnya juga, hanya saja jalan hidupnya yang salah.
gadis ditepi jalan adalah wanita yang hidup dalam tekanan. kupu kupu malam penggoda lelaki liar. menjual cinta tapi tidak dengan perasaanya. bekerja tiap hari tanpa mengenal hari libur.
kerja... kerja... kerja... yang terus dilakukannya, tak peduli resiko yang dihadapinya.
senyum dalam tangisan
tangisan dalam senyuman
itulah hidupnya
terjebak dalam kehidupan malam yang dingin
she is an angel
hoping for better life
but, it's just an illusion
when the girl die
fly to the sky between paradise or a hell
but nobody cry for her
thanks for read this
hope you will like this and don't forget to comment
oke... love u all.
